Seusai memberikan materi pajak pada acara Tax Gathering nasabah prioritas BCA di Surabaya beberapa hari yang lalu, seorang peserta berjalan menuju ke arah saya seraya mengulurkan tangan.

“Terima kasih, Pak Nyoman. Konsep Bapak tentang melayani dengan cinta kasih yang Bapak sampaikan tadi sangat bagus. Saya suka.”

“Terima kasih Pak atas pujiannya,” jawab saya.

Pada bagian akhir paparan memang saya menjelaskan tentang perlunya revolusi mental dalam pelayanan publik agar orang antusias membayar pajak. Ketika melayani masyarakat, aparatur negara sebaiknya memandang masyarakat yang dilayani adalah orang yang membayar gaji mereka. Aparatur negara mesti menyadari bahwa sesungguhnya gaji yang mereka terima setiap bulan berasal dari pajak yang dibayar masyarakat.

Dengan demikian, sudah sewajarnya aparatur negara melayani masyarakat dengan penuh cinta kasih karena yang mereka layani sesungguhnya adalah orang yang membayar gaji mereka tiap bulan.

Kali ini saya tidak akan mengulas panjang lebar tentang melayani dengan cinta kasih, tetapi saya akan menyoroti tindakan seorang peserta yang memberikan pujian kepada saya. Bagi saya, pujian merupakan vitamin segar yang dapat memacu kita untuk meningkatkan prestasi di masa yang akan datang. Banyak orang yang berpendapat bahwa pujian dapat memotivasi orang yang dipuji.

Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari tindakan memuji ini jarang dilakukan. Orang tua jarang memuji anaknya, atasan jarang memuji bawahan, dan sebaliknya.

Berdasarkan pengamatan sehari-hari orang Indonesia memang kurang biasa memberikan pujian. Berbeda halnya dengan orang Barat yang dengan mudah memberikan pujian ketika melihat sesuatu yang bagus. Memuji bagi mereka sudah merupakan budaya.

Pujian merupakan sebuah bentuk penghargaan kepada orang lain. Penghargaan adalah sebuah wujud pengakuan, sehingga pujian merupakan wujud dari pengakuan atas pencapaian seseorang. Ketika seorang atasan memuji anak buahnya yang telah menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, hal itu berarti dia mengakui anak buahnya bekerja dengan cekatan dan sigap, sehingga bisa selesai tepat waktu.

Dengan adanya pengakuan ini, dalam hati anak buahnya akan terbentuk citra diri bahwa dirinya mampu menyelesaikan tugas yang diberikan atasan dengan baik dan tepat waktu. Dia menjadi semakin termotivasi untuk meningkatkan prestasi dan kinerjanya di masa depan.

Pujian sebaiknya dilakukan dengan tulus ikhlas. Memberi pujian dengan ikhlas justeru akan menimbulkan rasa bahagia. Di samping memunculkan rasa bahagia, memuji dengan tulus ikhlas mampu memancarkan energi positif yang luar biasa kepada orang yang dipuji dan juga ke alam semesta. Ketika kita memancarkan energi positif, maka kita akan menarik energi positif dan hal-hal positif terjadi dalam kehidupan kita.

Jadi, di samping berdampak positif terhadap orang yang dipuji, memuji dengan tulus juga berdampak positif terhadap diri sendiri.

Di samping jarang (pelit) memuji, banyak orang Indonesia yang tidak ikhlas menerima pujian, bahkan sering menolak. Jika misalnya Ratna memuji bahwa Wulan hebat, maka biasanya secara refleks Wulan akan menjawab “Ah, enggaklah. Saya itu biasa saja.”

Kebiasaan menolak menerima pujian itu tanpa disadari akan menjadikan kita terbiasa menolak menerima hal-hal lain, termasuk menolak menerima rezeki. Sebaliknya, apabila kita sudah terbiasa dengan ikhlas menerima hal-hal kecil (pujian), maka ke depan kita akan menjadi terbiasa menerima dengan ikhlas hal-hal yang lebih besar, termasuk rezeki yang lebih besar.

Setelah saya perhatikan, kebiasaan menolak menerima pujian itu disebabkan pujian yang diberikan itu belum spesifik dan masih bersifat umum. Kalimat pujian “kamu itu hebat” yang dilontarkan Ratna kepada Wulan tadi masih bersifat umum. Wulan belum bisa menerima karena belum mengetahui secara spesifik kehebatan dalam bidang apa yang dipuji oleh Ratna.

Wulan baru bisa menerima pujian dari Ratna apabila Ratna misalnya mengatakan “Wulan, cara kamu menjawab pertanyaan dari audien tadi sungguh hebat dan luar biasa.”

Lantas, bagaimana kalau orang lain sudah memberikan pujian dengan spesifik?

Tidak ada hal lain yang saya sarankan, kecuali terimalah pujian itu dengan ikhlas. Ketika menerima pujian dengan ikhlas, maka kita akan merasakan kebahagiaan yang muncul dalam diri kita. Di samping itu, kita juga akan memancarkan energi positif kepada orang yang memberikan pujian dan kepada alam semesta.

Dengan memancarkan energi positif, kita mampu menarik energi positif dan hal-hal positif terjadi dalam kehidupan kita. Jadi, menerima pujian dengan ikhlas berdampak positif pada orang yang memberi pujian dan juga kepada diri kita sendiri.

Mulai sekarang mari kita biasakan diri menerima pujian dengan ikhlas dengan mengucapkan kata “terima kasih.” Kata terima kasih terdiri dari kata “terima” dan ‘kasih”. Hal ini berarti kita menerima pujian itu dengan kasih. Di samping membiasakan diri menerima pujian dengan ikhlas, mari juga kita membiasakan diri sering-sering memberikan pujian kepada orang lain.

Sudahkah hari ini Anda memberikan pujian kepada orang lain?

Salam berkelimpahan bahagia

SHARE
Previous articleINDAHNYA PUASA
Next articleDAMPAK KENAIKAN PTKP BAGI PENGUSAHA
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Semoga Anda makin berkelimpahan rezeki hari demi hari... Salam berkelimpahan bahagia, I Nyoman Widia

LEAVE A REPLY