Ramli adalah seorang Manajer Keuangan di sebuah perusahaan terkenal di Jakarta. Selama ini dia sangat antipati terhadap pajak. Dia sering mengeluhkan penghasilannya mesti dipotong pajak oleh perusahaan.

Uang yang ia terima menjadi berkurang. Keluh kesahnya sering dilontarkan ke teman-temannya yang kebetulan banyak bekerja sebagai pegawai pajak. Ramli tidak rela penghasilannya berkurang gara-gara pajak.

Suatu hari Ramli dipanggil bossnya dan disuruh mewakili hadir dalam acara Tax Gathering yang diadakan Bank BCA. Bank papan atas ini sengaja mengundang para nasabah prioritasnya untuk diberikan informasi terkini seputar perpajakan.

Begitu mendengar ada kata “pajak”, seketika itu perut Ramli terasa mual. Sejatinya dia tidak tertarik untuk ikut acara Tax Gathering tersebut, namun apa daya dia hanya seorang pegawai. Mau tidak mau atau suka tidak suka, dia mesti menjalankan perintah atasannya yang juga adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.

Dengan hati sedikit dongkol Ramli akhirnya pergi menghadiri Tax Gathering yang diadakan di sebuah hotel. Hatinya menolak karena selama ini persepsinya terhadap pajak amat negatif. Bagi dia, membayar pajak itu tidak ada gunanya, malahan mengurangi penghasilan yang seharusnya diterima. Pokoknya dia benci sama yang namanya pajak.

Acara didahului dengan makan siang. “Lumayan…makan siang enak di hotel dan gratis pula…” gumam Ramli dalam hati. Walau dalam suasana hati yang tidak enak, Ramli mengikuti acara Tax Garhering hingga akhir.

Sesuatu yang tidak disangka-sangka Ramli jumpai dalam acara itu. Narasumber yang memaparkan informasi terkini seputar perpajakan ternyata adalah juga seorang motivator. Dengan gamblang dan bernas sang motivator memaparkan sebuah konsep baru dalam memahami pajak.

Menurut narasumber, memori bawah sadar bangsa Indonesia selama ini dicekoki persepsi bahwa pajak itu merupakan beban, sehingga orang-orang akan berusaha untuk mengurangi, bahkan menghindari beban tersebut.

Dalam berbagai literatur juga disebutkan bahwa pajak itu bersifat memaksa dan tidak mendapatkan imbalan secara langsung. Hal ini memperparah persepsi masyarakat terhadap pajak. Masyarakat menjadi terpaksa dan tidak ikhlas membayar pajak.

Lebih jauh narasumber menjelaskan bahwa sebenarnya pajak juga bisa dilihat dari perspektif spiritual. Dari sisi ini, pajak bisa dilihat sebagai sebuah pemberian kepada negara. Dalam ajaran agama manapun, semakin banyak memberi, rezeki yang datang semakin berlimpah.

Dengan demikian, jika seseorang membayar pajak dengan ikhlas, rezeki orang tersebut semakin berlimpah. Pajak justru dapat meningkatkan penghasilan seseorang.

Setelah memberikan penjelasan tambahan tentang paradigma baru dalam memahami pajak, tiba-tiba narasumber mendatangi Ramli.

“Apakah Anda ingin potongan pajak Anda di kantor tiap bulan semakin meningkat?”

Dalam hitungan detik logika Ramli jalan dan langsung menjawab, “Pengin donk, Pak…”

“Lho, mengapa?” selidik narasumber.

“Dengan potongan pajak saya makin meningkat tiap bulan, artinya penghasilan saya tiap bulan juga meningkat”, jawab Ramli spontan.

Tepuk tangan riuh dari para hadirin menggema. Seketika itu pandangan Ramli terhadap pajak berubah seratus delapan puluh derajat. Ternyata dengan membayar pajak yang semakin meningkat, penghasilan serta merta meningkat pula.

Dalam acara itu narasumber juga memberikan bonus hipnosis massal karena narasumber juga adalah seorang hipnoterapist. Semua peserta yang hadir dihipnosis agar pembayaran pajaknya semakin meningkat dan rezekinya makin berlimpah-limpah.

Betapa bersyukur dan bahagianya Ramli bisa menghadiri acara yang luar biasa tersebut. Ilmu baru tentang pajak ini disampaikan juga kepada bossnya di kantor. Sang boss juga baru menyadari hal tersebut dan serta merta berdoa agar pembayaran pajaknya semakin meningkat. Ramli pun ikut berdoa hal yang sama.

Mulai sejak itu hari demi hari Ramli semakin semangat bekerja dan senantiasa berdoa agar potongan pajaknya semakin bertambah.

Beberapa hari setelah mengikuti Tax Gathering tersebut, Ramli mendapat informasi bahwa Menteri Keuangan telah melakukan kesepakatan dengan DPR untuk menaikkan PTKP dari yang semula Rp3 juta per bulan menjadi Rp4.5 juta per bulan. Kebijakan ini akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan yang akan dirilis pertengahan tahun ini dan berlaku untuk tahun pajak 2016.

Betapa sedihnya hati Ramli dengan adanya kenaikan PTKP ini. Pembayaran pajak dia menjadi berkurang. Pikiran kreatifnya terus berupaya mencari solusi agar pembayaran pajaknya tidak berkurang. Akhirnya, Ramli menemukan ide cemerlang dan segera dia menghadap bossnya.

“Boss, mohon maaf saya mau minta pertimbangan terkait kebijakan baru dari pemerintah tentang PTKP”, Ramli menyampaikan maksud kedatangannya.

“Apa yang bisa saya bantu? Saya janji deh bantu kamu sebisa saya”, jawab bossnya.

“Terima kasih atas kebaikan hati Boss. Saya minta tolong bagaimana caranya agar potongan pajak saya tiap bulan tetap, bahkan kalau bisa naik, walaupun pemerintah menaikkan PTKP. Tolong saya ya Boss….”

***)dimuat pada harianbernas.com pada 8 Juni 2016

SHARE
Previous articleTULUS MEMUJI DAN IKHLAS DIPUJI
Next articlePELATIHAN KEBAHAGIAAN DI KANWIL LTO
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Semoga Anda makin berkelimpahan rezeki hari demi hari... Salam berkelimpahan bahagia, I Nyoman Widia

LEAVE A REPLY