Sepulang sekolah Wira langsung berkutat dengan internet. Gurunya memberi tugas untuk mengumpulkan berita dan artikel tentang pajak. Dia sangat beruntung mempunyai orang tua yang sangat peduli dengan perkembangan teknologi, sehingga sudah lama menyediakan akses internet di rumahnya. Keberadaan internet sangat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

Dalam pencarian berita dan artikel tentang pajak tersebut, Wira menemukan salah satu sumber berita yang memuat pernyataan seorang pejabat penting di republik ini terkait kesadaran masyarakat Indonesia dalam membayar pajak. Menurut pejabat itu, dari kurang lebih dua ratus lima puluh juta penduduk Indonesia, yang mempunyai NPWP baru sekitar dua puluh tujuh juta. Dari jumlah yang terdaftar itu, yang menyampaikan laporan pajak baru sekitar sepuluh juta orang, sedangkan jumlah yang membayar pajak kurang dari satu juta orang.

Setelah membaca berita itu, hati Wira sedikit bergetar. Dadanya membuncah. Dia tahu dari gurunya bahwa pajak itu sangat penting artinya bagi pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan. Pemerintah sangat tergantung dari penerimaan pajak. Namun demikian, kesadaran masyarakat untuk membayar pajak masih rendah. Hal ini terbukti dari dua ratus lima puluh juta penduduk Indonesia, kurang dari sejuta orang yang bayar pajak. “Yang lain pada ke mana ya?” gumam Wira dalam hati.

Keesokan harinya sepulang sekolah Wira tidak langsung menuju rumah, tetapi sepeda motornya diarahkan ke sebuah kantor. Dengan berbalut pakaian seragam sekolah, Wira bergegas mengarahkan kakinya ke sebuah ruangan yang ada tulisan berbunyi “Tempat Pelayanan Terpadu”. Dia diterima oleh seorang petugas yang piket saat itu.

“Selamat Siang Pak. Saya mau daftar NPWP”, kata Wira membuka pembicaraan.

“Selamat siang. Kalau lihat dari pakaian, Adik ini masih sekolah ya? Apa Adik sudah tahu orang yang bagaimana yang wajib mendaftar NPWP?” kata petugas itu.

“Saya memang masih SMA, Pak dan saya ingin membayar pajak. Makanya saya ke sini untuk mendaftar NPWP”, tangkis Wira.

“Nah, sebelumnya akan saya jelaskan siapa saja yang wajib NPWP. Orang yang wajib mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP adalah orang yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif. Yang dimaksud dengan persyaratan subjektif adalah orang yang tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia lebih dari 180 hari. Hal ini berarti Adik telah memenuhi persyaratan subjektif. Adapun persyaratan objektif maksudnya adalah penghasilan orang tersebut melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Besarnya PTKP saat ini adalah Rp36 juta setahun atau Rp3 juta sebulan. Sekarang saya tanya apakah Adik ini punya penghasilan di atas Rp3 juta sebulan?” tanya petugas itu.

“Walah, penghasilan saya sebulan masih di bawah Rp3 juta, Pak. Saya diberi uang oleh ayah saya Rp1,5 juta sebulan. Itu pun untuk seluruh kebutuhan saya, termasuk uang jajan harian dan saya juga tiap bulan menyisihkannya untuk ditabung. Dari jumlah yang selama ini ditabung tiap bulan, saya mau sisihkan sebagian untuk bayar pajak”, tambah Wira.

“Wah, sungguh mulia hatimu, Dik. Semangatmu untuk bayar pajak perlu ditiru masyarakat lain. Banyak orang yang sudah mempunyai penghasilan, bahkan penghasilannya besar, tetapi tidak rela membayar pajak. Saya salut dengan semangatmu itu”, petugas pajak itu menimpali.

“Terima kasih, Pak. Saya gemes saja setelah mengetahui dari berita di internet bahwa dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, yang telah membayar pajak kurang dari sejuta orang. Hati saya tergerak untuk ikut bayar pajak. Jadi, saya boleh ya daftar NPWP sekarang?” tanya Wira.

“Maaf ya Dik, aturan kami belum memperkenankan Adik untuk daftar NPWP. Untuk orang yang belum dewasa seperti Adik ini kewajiban perpajakannya ikut orang tua. Jika Adik punya penghasilan sendiri dan bukan pemberian orang tua, maka penghasilan itu digabungkan dengan orang tua ketika menghitung pajaknya. Apalagi Adik ini belum memperoleh penghasilan sendiri, tetapi masih berupa uang pemberian dari orang tua. Jadi, dengan sangat terpaksa kami tidak bisa memberikan NPWP. Ketika nanti adik sudah dewasa dan memperoleh penghasilan di atas Rp3 juta sebulan, silakan datang lagi ke sini untuk daftar NPWP”, jawab petugas pajak itu.

“Terus terang saya kecewa, Pak. Bapak sudah menghalang-halangi saya yang ingin bayar pajak. Terima kasih, Pak. Saya mohon pamit”, Wira berdiri seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman, walau dengan raut muka kecewa.

Dengan hati nelangsa Wira mengendarai sepeda motornya menuju rumah. Dalam perjalanan pulang muncul ide untuk mengadukan kejadian di kantor pajak tadi dengan ayahnya yang merupakan seorang praktisi perpajakan sekaligus seorang motivator. Wira baru ingat sore ini ayahnya berada di rumah karena baru tiba dari luar kota memenuhi undangan sebuah bank papan atas untuk memberikan materi pajak kepada nasabah-nasabah terpilih.

Wira menjelaskan kejadian yang dialaminya di kantor pajak dan alasan mengapa dia ingin daftar NPWP. Dengan bijak dan sabar ayahnya menjelaskan dan memberi pengertian pada Wira.

Menurut sang ayah, pajak itu dibedakan menjadi pajak langsung dan tidak langsung. Pajak langsung adalah pajak yang disetorkan secara langsung ke kas negara oleh pembayar pajak, sedangkan pajak tidak langsung adalah pajak yang disetorkan oleh pembayar pajak melalui pihak lain. Contoh pajak langsung adalah pajak penghasilan, sedangkan contoh pajak tidak langsung banyak, antara lain Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Hotel, Pajak Restoran, dll.

NPWP diperlukan untuk pembayaran pajak langsung (pajak penghasilan), sedangkan untuk membayar pajak tidak langsung tidak perlu NPWP. Misalnya, seseorang yang membeli barang di supermarket dia akan membayar Pajak Pertambahan Nilai sebesar 10% dari harga barang. Pajak ini dipungut oleh pengusaha supermarket dan disetor ke kas negara. Orang yang membeli barang plus membayar PPN tersebut tidak akan dimintai NPWP.

“Jadi, Wira tidak usah berkecil hati. Sebenarnya selama ini Wira sudah sering membayar pajak. Ketika membeli barang di supermarket, Wira telah membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Tatkala membayar makanan dan minuman di restoran Wira juga telah membayar Pajak Restoran”, papar ayahnya berusaha menenangkan anak kesayangannya.

Lebih lanjut ayahnya menjelaskan bahwa sebaiknya pemerintah (melalui pejabatnya) lebih banyak mengapresiasi para pembayar pajak dari pada sering menjustifikasi bahwa kesadaran masyarakat untuk membayar pajak masih rendah. Apalagi mengatakan bahwa yang membayar pajak kurang dari sejuta orang (900.000 orang). Padahal, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah membayar pajak, terutama pajak tidak langsung.

“Terima kasih atas penjelasan Ayah. Saya janji ketika nanti sudah dewasa dan mempunyai penghasilan sendiri, saya akan taat dan antusias membayar pajak. Terima kasih juga telah menyadarkan saya bahwa ternyata selama ini saya sudah membayar pajak.”

Ayah dan anak kemudian saling berpelukan.

Salam berkelimpahan bahagia,

I Nyoman Widia
Tax & Happiness Coach

SHARE
Next articleMELAYANI PEMBAYAR GAJI
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Semoga Anda makin berkelimpahan rezeki hari demi hari... Salam berkelimpahan bahagia, I Nyoman Widia

LEAVE A REPLY