Tujuh hari yang lalu saya bersama ayah pergi sembahyang ke Pura Ulun Danu Batur di daerah Kintamani. Lokasi yang jaraknya sekitar 20 km dari kampung, kami tempuh dalam waktu kurang dari setengah jam.

Seusai sembahyang kami menyempatkan membeli ikan mujahir bakar untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Ikan mujahir yang hasil tangkapan dari Danau Batur memang terkenal kegurihannya apalagi dimasak dengan membakar serta ditemani sambal matah (mentah).

Saat jalan pulang menuruni jalan curam sebelum memasuki Desa Paket, ayah mengajak saya mampir di rumah famili yang berada di ujung utara Desa Paket. Memang sudah menjadi kebiasaan kami, terutama kalau Ayah ikut, untuk mampir sejenak di rumah famili tersebut. Sudah menjadi tradisi pula jika kami mampir, pas pulangnya famili saya akan memberikan oleh-oleh hasil bumi berupa jeruk. Hampir sepanjang tahun ada saja tanaman jeruknya yang berbuah.

Sebenarnya dalam hati saya agak malas untuk mampir karena pengin cepat-cepat pulang. Tapi karena ayah yang tetap minta mampir, walau agak malas, saya sanggupi juga untuk mampir.

Rupanya rasa malas mampir itu membawa dampak yang kurang bagus. Rumah famili saya ada di sebelah kanan jalan. Entah kenapa, ketika saya memperlambat laju mobil di sebelah kiri jalan, hati saya ragu menentukan yang mana rumahnya. Kalau dulu gampang sekali menandai rumahnya karena lokasinya yang paling ujung sebelum jalan menanjak. Sekarang saya melihat ada dua rumah di sebelah kanan jalan yang bentuk jalan masuknya hampir sama.

Saya tanya ke ayah apakah beliau ingat persis jalan masuk yang benar ke rumah famili tersebut. Rupanya ayah saya juga ragu. Karena beliau ragu, saya tawarkan untuk membatalkan rencana mampir hari itu dan saya janji ketika pulang ke Bali berikutnya saya akan ajak beliau mampir. Ayah saya setuju dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang.

Sepanjang perjalanan pulang ayah sama sekali tidak menyinggung batalnya rencana mampir ke rumah famili di Desa Paket. Sembari menyetir saya berpikir dan terus menganalisis sebuah contoh perilaku sederhana yang diberikan ayah kepada saya.

Setelah saya renungkan, rupanya ayah sedang memberikan pelajaran berharga kepada saya. Ketika kita sudah memutuskan mengambil sebuah pilihan tertentu, maka kita tidak lagi mengungkit-ungkit dan mempermasalahkan kenapa kita tidak jadi mengambil pilihan yang lain. Sejatinya kita diberikan kebebasan seratus persen untuk menentukan pilihan. Dan ketika kita sudah menentukan pilihan, maka sesudahnya kita tidak lagi memikirkan pilihan yang tidak kita ambil.

Dalam hidup ini memang banyak pilihan. Kita mesti bijak dalam menentukan pilihan. Kalau kita kilas balik waktu sekolah dan kuliah, dalam setiap ujian biasanya ada pilihan ganda. Ujian pilihan ganda ini merupakan latihan bagus agar dalam kehidupan nyata kita bijak dalam menentukan pilihan. Sekali kita memutuskan memilih a, maka kita sejatinya telah melepaskan pilihan-pilihan yang lain.

Saya jadi teringat ketika mengendarai mobil di tengah-tengah kemacetan ibu kota. Ketika melihat barisan mobil di sebelah kiri terlihat agak lancar, serta merta saya arahkan kemudi ke arah kiri mengikuti barisan sebelah kiri. Beberapa saat kemudian ternyata barisan sebalah kanan menjadi lebih lancar. Dalam hati terbesit sedikit penyesalan: “seharusnya tadi tetap di jalur kanan…”

Pelajaran sederhana yang diberikan ayah minggu lalu sungguh mengena. Mulai sekarang dan seterusnya saya akan menerapkan ajaran beliau. Sekali kita memutuskan memilih satu pilihan, kita bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan itu dan melepaskan pilihan-pilihan yang yang lain.

Ketidakberdayaan kita melepaskan pilihan-pilihan yang tidak kita ambil berakibat munculnya beban dalam diri kita. Beban ini dapat mengganggu stabilitas kebahagiaan diri kita.

Mari kita biarkan berlalu sesuatu yang sudah terjadi. Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah respon kita terhadap peristiwa yang sudah terjadi itu.

Salam berkelimpahan bahagia,

I Nyoman Widia

LEAVE A REPLY