Yoga adalah seorang profesional di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Karena luwes dalam bergaul, Yoga memiliki ‘networking’ yang luas. Dari pergaulannya itu, terkadang Yoga berhasil mempertemukan seseorang dengan orang lain dalam urusan bisnis. Dan Yoga pun mendapatkan komisi dari upayanya mempertemukan orang-orang tersebut.

Yoga rajin menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung dan diinvestasikan. Setelah lebih dari lima belas tahun bekerja, tahun 2014 silam Yoga tidak hanya memiliki rumah tinggal yang luas dan asri, tetapi juga mampu membeli sebuah apartemen. Karena tidak ditempati, apartemen tersebut disewakannya, sehingga Yoga mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan.

Sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab, Yoga sudah memliki NPWP semenjak diangkat sebagai pegawai tetap oleh perusahaan tempatnya bekerja. Setiap tahun dia dengan tertib melaporkan SPT Tahunan ke kantor pajak. Karena tiap bulan sudah dipotong pajak oleh perusahaan, maka Yoga merasa sudah melaksanakan kewajiban perpajakan dengan baik.

Ketika pada pertengahan tahun 2016 Pemerintah Indonesia meluncurkan program pengampunan pajak, Yoga sempat bingung. Dirinya bimbang apakah ikut program tersebut ataukah tidak sama sekali. Beruntunglah dia karena pimpinan di perusahaannya sangat peduli terhadap pajak.

Pada awal bulan September 2016 semua pegawai yang sudah mempunyai NPWP dikumpulkan untuk mendengarkan paparan mengenai pengampunan pajak dari seorang Tax Advisor yang juga sekaligus seorang motivator.

Tax Advisor tersebut menjelasakan bahwa program pengampunan pajak merupakan sebuah kebijakan untuk memaafkan kesalahaan-kesalahan yang dilakukan oleh wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan dalam tahun 2015 dan tahun-tahun sebelumnya.

Pengampunan pajak ini merupakan hak dan bukan kewajiban. Artinya, apabila orang merasa telah melaksanakan kewajiban perpajakan secara benar, maka orang itu tidak perlu ikut program pengampunan pajak. Kesalahan yang dimaksud tidak hanya kesalahan dalam pelaporan semua penghasilan, tetapi juga termasuk kesalahan tidak melaporkan semua harta yang dimiliki per 31 Desember 2015 dalam SPT Tahunan 2015.

Dalam kesempatan tanya jawab seorang peserta menanyakan perlunya ikut pengampunan pajak karena dirinya hanyalah seorang pegawai dan semua penghasilannya telah dipotong pajak oleh perusahaan. Tax Advisor tersebut menjelaskan bahwa bisa jadi seorang pegawai memperoleh penghasilan dari sumber-sumber lain di luar perusahaannya, seperti komisi dari mempertemukan relasi bisnis, penghasilan sewa rumah/apartemen, jualan sembako, dan lain-lain.

Karena tidak tertib melakukan pencatatan ketika penghasilan-penghasilan tersebut diterima, ada kemungkinan lupa melaporkannya dalam SPT Tahunan.

Setelah mendengarkan paparan yang dilanjutkan dengan diskusi, Yoga menjadi semakin yakin bahwa dirinya selama ini telah melakukan kesalahan dalam melaksanakan kewajiban perpajakan dan perlu menggunakan haknya untuk diampuni Negara.

Pada akhir September 2016 Yoga ikut program pengampunan pajak dengan melaporkan beberapa hartanya yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan 2015, yaitu sebuah apartemen dan deposito di sebuah bank. Yoga ikhlas membayar sejumlah uang tebusan dan hatinya menjadi lega dan bahagia.

Kebahagiaanya menjadi sedikit tereduksi ketika pada bulan Desember 2016 ini Yoga memperoleh penghasilan berupa sewa apartemen yang dibayar setahun sekali pada setiap bulan Desember. Apa yang harus dia lakukan dengan penghasilan ini?

Di satu pihak dia bersyukur karena penghasilan dari sewa apartemen lumayan besar dan sebagian bisa digunakan untuk acara penyambutan tahun baru 2017 bersama keluarga, di pihak lain dia bingung terkait aspek perpajakan atas penghasilan sewa apartemen tersebut.

Karena tidak mau melakukan kesalahan lagi, maka Yoga mendatangi Tax Advisor yang pernah memberikan paparan di kantornya bulan September lalu. Kebetulan waktu itu Yoga sempat berkenalan dan meminta kartu nama. Dengan senang hati Tax Advisor itu memberikan pencerahan kepada Yoga.

“Saya memberikan apresiasi yang tinggi karena Anda begitu peduli terhadap pajak. Seperti inilah semestinya seorang warga Negara yang baik. Setelah mengakui semua kesalahan dan mendapat pengampunan dari Negara, bukan berarti kewajiban perpajakan sudah selesai. Justru pasca pengampunan pajak menjadi lebih penting dari pengampunan pajak itu sendiri. Ibarat orang yang mengaku bersalah dan telah diampuni, maka hari-hari kedepan hendaknya tidak melakukan kesalahan-kesalahan lagi, terutama tidak melakukan kesalahan yang sama.”

Terkait dengan sewa apartemen, penghasilan tersebut tergolong penghasilan sewa atas tanah dan/atau bangunan yang merupakan objek pajak penghasilan dengan tarif 10% dan bersifat final. Jika yang menyewa adalah wajib pajak badan atau wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, maka pihak penyewalah yang berkewajiban memotong pajak penghasilan 10% ketika melakukan pembayaran sewa.

Akan tetapi, karena yang menyewa adalah orang pribadi yang tidak wajib melakukan pemotongan, maka pajak penghasilan 10% wajib disetor oleh pemilik tanah dan/atau bangunan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya setelah penghasilan itu diterima. Anda masih mempunyai kesempatan untuk membayar pajak penghasilan atas sewa apartemen yang diterima bulan Desember ini paling lambat tanggal 10 Januari 2017.

Orang-orang seperti Anda patut menjadi contoh di masyarakat dalam membayar pajak. Sudah tidak zamannya lagi memaksa-maksa orang untuk membayar pajak. Ketika dipaksa, dalam diri seseorang akan muncul penolakan. Sebaliknya, pemerintah hendaknya lebih menekankan pada peningkatan kepatuhan sukarela. Semakin ikhlas membayar pajak, semakin berlimpah rezeki yang akan diperoleh orang itu”, Tax Advisor memberikan penjelasan.

“Terima kasih banyak, Pak. Saya bersyukur dan beruntung mendapat penjelasan yang mencerahkan seperti ini dan saya belum terlambat. Sebelum tanggal 10 Januari 2017 saya akan melakukan pembayaran dengan ikhlas ke bank.

Saya semakin semangat dalam membayar pajak. Saya berdoa semoga pembayaran pajak saya semakin meningkat ke depannya. Semoga juga Bapak semakin berkelimpahan rezeki dan semakin banyak orang tercerahkan oleh nasihat-nasihat Bapak,” Yoga mengakhiri pembicaraan dan mohon pamit pulang.

Salam berkelimpahan bahagia,

I Nyoman Widia

***dimuat di harianbernas.com pada 31 Desember 2016

LEAVE A REPLY