Parjo hidup bahagia bersama istri dan tiga orang anaknya. Sudah lima tahun ini dia bekerja di sebuah pabrik tekstil di pinggirin kota Solo. Sebelumnya Parjo pernah bekerja di usaha batik milik temannya.

Dengan menerapkan pola hidup sederhana, penghasilan enam juta rupiah sebulan bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan, dengan kepintaran mengelola keuangan, istrinya masih bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung.

Pada suatu malam Parjo menonton tayangan TV yang sedang menyiarkan pidato presiden. Sebagai warga negara yang baik Parjo sangat hormat dan respek terhadap pemimpin negara. Pantang baginya memindahkan channel ketika sebuah stasiun TV sedang menayangkan pidato kepala negara. Dengan seksama Parjo menyimak kata demi kata yang diucapkan orang nomor satu di negeri tercinta ini.

Parjo sangat tersentuh hatinya ketika presiden yang banyak mendapat pujian dari negara lain tersebut mengajak rakyat Indonesia untuk berpartisipasi membangun bangsa melalui pajak. Dengan tulus presiden menyampaikan bahwa negara sangat memerlukan dukungan dana agar bisa menjalankan pemerintahan dan pembangunan. Dana yang diperlukan itu sebagian besar berasal dari pajak.

“Mari kita bersama-sama membiayai negara ini melalui pajak. Semakin besar jumlah pajak yang bisa dihimpun, semakin mandiri bangsa ini. Dengan demikian, kita bisa melepaskan diri dari jeratan utang pihak luar”, tegas presiden.

Selanjutnya presiden tidak hanya sekadar mengajak masyarakat untuk semakin patuh dan jujur dalam membayar pajak, beliau juga menyampaikan jumlah pajak-pajak pribadi yang sudah beliau bayar tiap tahun dalam lima tahun terakhir. Beliau menyatakan ikhlas dan bahagia membayar pajak. Tidak hanya ketika beliau telah menjadi presiden, rasa bahagia dan ikhlas membayar pajak sudah dilakukan sewaktu beliau masih menjadi seorang pengusaha.

“Rasa ikhlas dan bahagia saat membayar pajak telah menggelorakan semangat saya dalam berbisnis. Saat masih menjadi pengusaha, saya terus berkomitmen agar pembayaran pajak saya dari waktu ke waktu makin meningkat. Niat baik ini telah membawa bisnis saya semakin berkembang hari demi hari. Sudah lama rahasia ini tidak saya utarakan kepada siapa-siapa. Sekaranglah saatnya saya membuka rahasia sukses bisnis saya kepada seluruh bangsa Indonesia. Kuncinya adalah ikhlas membayar pajak”, tambah presiden.

Kalimat yang paling berkesan bagi Parjo adalah ketika presiden mengajak para pegawai, pekerja, dan para buruh sering-sering berdoa agar potongan pajak mereka tiap bulan semakin meningkat. 

“Mulai sekarang janganlah berdoa agar penghasilan meningkat, tetapi berdoalah agar jumlah potongan pajak tiap bulan terus bertambah”, ajak presiden.

Presiden mengakhiri pidatonya dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh bangsa Indonesia yang telah berkontribusi kepada negara melalui pajak. Presiden menambahkan bahwa para pembayar pajak sesungguhnya merupakan pahlawan-pahlawan bangsa dalam konteks kekinian.

Seusai tayangan pidato presiden Parjo langsung mematikan televisinya. Matanya terpejam sembari membayangkan wajah sang presiden seolah-olah memutar ulang kata-kata yang diucapkan tokoh berpenampilan sederhana itu.

Hatinya bergemuruh. Dia teringat kalau selama ini dalam slip gajinya yang diterima tiap bulan belum pernah ada tertulis potongan pajak. Parjo juga belum mempunyai NPWP sebagaimana yang dimiliki beberapa temannya.

Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Parjo menjadi rileks. Pikirannya melayang ke rumah tetangga sebelah. Tetangga sebelah kiri rumahnya itu adalah seorang motivator yang sekaligus memahami permasalahan pajak. Parjo mendengar cerita bahwa tetangganya itu juga sering diundang memberikan ceramah tentang pajak.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Parjo bergegas ke rumah tetangganya untuk meminta pencerahan. Sesampainya di rumah yang asri dengan diterangi banyak lampu berwarna-warni Parjo mengutarakan keinginannya untuk ikut membayar pajak. Dia terinspirasi setelah mendengar pidato presiden.

“Saya sangat mengapresiasi dan bangga punya tetangga seperti Sampeyan. Jarang ada orang yang punya niat tulus membayar pajak. Sebelum saya menjelaskan lebih jauh, izinkan saya mengetahui berapa penghasilan bulanan Sampeyan saat ini. Maaf, hal ini saya tanyakan karena terkait dengan ada tidaknya kewajiban Anda membayar pajak”, ujar tetangganya membuka pembicaraan.

“Saya tidak pernah malu mengatakan jumlah penghasilan saya kepada siapapun yang bertanya kepada saya. Saya ikhlas jumlahnya diketahui orang lain. Penghasilan saya hanya dari pabrik tekstil tempat saya bekerja itu, yakni sebesar enam juta rupiah sebulan. Jumlah ini baru mengalami kenaikan sejak tiga bulan lalu”, jawab Parjo jujur.

Selanjutnya tetangganya menjelaskan bahwa apabila penghasilan masih Rp6.000.000,00 per bulan, Parjo belum dikenakan pajak penghasilan. Hal ini karena jumlah penghasilan belum di atas jumlah penghasilan tidak kena pajak yang besarnya enam juta rupiah per bulan bagi Parjo yang menghidupi seorang istri dan tiga orang anak.

Agar bisa membayar pajak, penghasilan Parjo harus lebih besar dari enam juta rupiah per bulan. Ada dua cara yang bisa ditempuh agar niat Parjo bisa terlaksana. Pertama, Parjo mesti kerja lebih rajin dan kreatif, sehingga kinerjanya semakin meningkat. Seiring meningkatnya kinerja, majikan punya alasan untuk menaikkan penghasilan Parjo.

Cara kedua adalah dengan memulai bisnis sampingan. Istri Parjo jualan sembako atau buka usaha catering. Dengan mempunyai bisnis sampingan, Parjo bisa mendapatkan tambahan penghasilan, sehingga membayar pajak penghasilan sebesar 1% dari omzet bulanan.

Setelah menerima banyak pencerahan hati Parjo makin mantap agar bisa memberi kepada negara ke depannya. Kalau tadi disarankan ada dua cara, Parjo bertekad menempuh keduanya. Di samping akan meningkatkan kinerjanya di pabrik, Parjo akan menarik sebagian tabungannya untuk dijadikan modal berbisnis yang akan dijalankan istrinya. Upaya ini dilakukan agar niat memberi kepada negara melalui pajak semakin cepat terwujud. 

Parjo lalu mohon pamit dengan hati yang bahagia karena dalam waktu dekat bisa melaksanakan ajakan presiden dengan berkontribusi kepada negara dalam wujud pajak.

Salam berkelimpahan bahagia.

I Nyoman Widia
Tax Advisor & Motivator

dimuat juga pada harianbernas.com 9 Januari 2017

SHARE
Previous articleHARUSKAH PEJABAT NEGARA IKUT TAX AMNESTY?
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Semoga Anda makin berkelimpahan rezeki hari demi hari... Salam berkelimpahan bahagia, I Nyoman Widia

LEAVE A REPLY