Om Suastiastu,

Angga bersyukur dan berbahagia bisa diterima kuliah di Politeknik Keuangan Negara STAN. Di samping kuliahnya gratis, seusai pendidikan, Angga dijanjikan segera mendapatkan pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara.

Perkuliahan sudah berlangsung seminggu. Awalnya Angga merasa sedikit ragu apakah dia bisa menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun itu. Pasalnya, sewaktu SMA Angga mengambil jurusan IPA, sedangkan sekarang dia mengambil jurusan Diploma 3 Perpajakan. Beda sekali materi yang diperolehnya saat ini ketimbang waktu SMA.

Keraguan tersebut mulai pupus ketika Angga mengikuti perkuliahan Pendidikan Agama Hindu. Dosen yang mengampu mata kuliah tersebut kebetulan adalah seorang motivator, tepatnya happiness motivator. Bagi Angga dan teman-temannya, mata kuliah Pendidikan Agama Hindu merupakan mata kuliah favorit.

Pada kuliah perdana yang dibahas adalah tentang konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu. Sang dosen menjelaskan bahwa Ida Hyang Widhi Wasa menciptakan alam semesta beserta isinya lengkap dengan hukum alam yang bekerja sempurna dan sistematis. Dan Hyang Widhi masuk merasuk serta larut ke dalam ciptaan-Nya. Dengan demikian, Tuhan melingkupi seluruh alam semesta beserta isinya dan Tuhan merupakan inti dari semesta raya ini.

Dalam agama Hindu dikenal adanya ajaran Brahman Atman Aikyam yang artinya bahwa Brahman/Tuhan dan Atman itu sama. Brahman berada di bhuana agung (alam semesta) dan Atman berada di bhuana alit (tubuh manusia). Atman merupakan percikan kecil dari Brahman yang berarti bahwa Atman itu sesungguhnya adalah Brahman. Dengan kata lain, di dalam diri setiap orang ada Brahman.

Angga berusaha mencerna materi yang merupakan hal baru baginya. Lalu dia memberanikan diri bertanya.

“Maaf Pak, agar saya bisa menjadi lebih yakin dengan apa yang Bapak jelaskan, adakah sloka Weda yang mendukung penjelasan Bapak tersebut?”

Suasana kelas menjadi hening sejenak. Hampir seluruh mahasiswa mempunyai pertanyaan yang sama dalam benaknya, tapi cuma Angga yang berani bertanya.

Sebagaimana biasanya dalam memberikan kuliah selama ini, dosen yang satu ini tidak membawa buku pedoman dan juga tidak menggunakan slide.

“Wah, pertanyaan yang sangat bagus ini. Sebenarnya ada beberapa sloka yang dapat dijadikan rujukan untuk mendukung penjelasan saya itu. Berhubung saya tidak hafal dengan sloka tersebut dan di ruangan ini juga tersedia fasilitas wifi gratis, silakan kalian browsing di internet.” Sang dosen berkilah.

Angga segera membuka gadget-nya. Koneksi internet di ruang kelas lumayan bagus. Dalam waktu kurang dari 3 menit, Angga telah menemukan setidaknya 2 sloka, yakni:

1. Atharwa Weda X.8.11
“Tat sambhuya bhavati ekam eva”
Brahman adalah inti alam semesta dan segalanya dilarutkan menjadi seragam dengan-Nya.

2. Reg Weda X.82.7
“Anyad yusmakam antaram babhuva”
Tuhan berada dalam hatimu.

Kedua sloka itu dibacanya berulang-ulang. Angga menjadi semakin paham dan kian yakin dengan apa yang dijelaskan oleh dosen.

Sang dosen lalu menambahkan penjelasan bahwa dengan meyakini ada Tuhan dalam diri, maka sesungguhnya manusia itu mempunyai kemampuan atau potensi diri yang sangat dahsyat tanpa batas. Kemampuan manusia yang sangat dahsyat itu selama ini tereduksi oleh pikiran-pikiran yang membatasi. Muncullah beberapa kalimat dalam pikiran, seperti “apalah saya ini? Itu kan tidak mungkin. Mana mungkin? Saya kan hanya orang kampung.

Pikiran-pikiran yang membatasi seperti itulah (awidya) yang menggerogoti kemampuan manusia. Jika kita bisa mengikis awidya tersebut dan meyakini keberadaan Hyang Widhi dalam diri, maka kita bisa menjadi orang hebat dan sukses di masa mendatang.

Pak dosen mengajak agar para mahasiswa mulai menerapkan konsep diri dan persepsi diri yang dilandasi ajaran Brahman Atman Aikyam, sehingga bisa merancang masa depan yang gemilang. Dalam jangka pendek mahasiswa diajak untuk menerapkannya dalam rangka memperoleh prestasi akademik yang optimal, yakni memperoleh IPK 4.

“Saya bisa menduga bahwa dalam benak Anda terlintas pertanyaan yang meragukan pernyataan saya tadi. Apa bisa memperoleh IPK 4? Dan jawaban saya adalah bisa saja.

Dengan meyakini ada Tuhan dalam diri, sering-seringlah mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang ada dalam diri kita, yakni pada Sang Atman itu sendiri. Di samping berterima kasih, kita juga bisa memohon agar Sang Atman menuntun kita dalam belajar sesuatu.

Misalnya sebelum Anda mulai belajar Akuntansi di kost, berdoalah sbb.:

“Terima kasih Sang Atman, saya mencintaimu, saya mengapresiasimu. Bimbinglah saya dalam belajar Akuntansi agar lebih mudah memahaminya. Terima kasih.”

Untuk kegiatan yang lain doa ini juga bisa digunakan. Semakin sering diapresiasi dan dimintai tolong, Sang Atman makin bahagia dalam menuntun aktivitas kita. Sekali waktu Anda juga bisa melantunkan doa seperti ini:

“Wahai Sang Hyang Widhi yang ada dalam diri hamba! Saya mengucap syukur atas perkenan-Mu yang senantiasa menuntun hamba dalam belajar di PKN STAN. Terima kasih Sang Atman. Saya mengapresiasi dan mengasihimu. Mohon bimbingan agar saya memperoleh IPK 4 dalam semester ini. Terima kasih.”

Untuk mengakhiri kuliahnya dosen yang berasal dari Bali ini mengajak mahasiswa untuk menjadikan ajaran Hindu sebagai pedoman hidup. Agama bukan untuk sekadar diteorikan, tetapi untuk dipraktekkan. Terapkan apa yang diperoleh di kelas dalam hidup keseharian.

“Seringlah berdoa minta tuntunan kepada Sang Atman yang nota bene adalah Tuhan,” pungkasnya.

Angga sangat bersyukur memperoleh materi yang sangat bagus ini. Setelah menerapkan ajaran ini semangat belajarnya terus menyala. Angga dengan mudah bisa memahami setiap mata kuliah yang dipelajarinya, sehingga hasil ujian pun rata-rata mendapat nilai A. Dan sudah dapat diduga setelah berakhirnya semester, Angga bisa memperoleh IPK 4.

Kembali Angga berdoa:

“Ya Hyang Widhi di alam semesta. Wahai Sang Atman dalam diri hamba. Terima kasih atas segala anugerah-Mu selama ini. Hamba sangat mengapresiasi dan mengasihi-Mu. Hamba telah memeroleh IPK 4 pada semester lalu. Itu semua berkat bimbingan-Mu. Semoga pada semester ini dan semester selanjutnya IPK hamba senantiasa mencapai 4. Terima kasih.”

Om Shanti Shanti Shanti Om

SHARE
Previous articleTRUST
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Semoga Anda makin berkelimpahan rezeki hari demi hari... Salam berkelimpahan bahagia, I Nyoman Widia

LEAVE A REPLY