Sepulang dari rapat di Pura Taman Sari Halim hari Minggu siang saya mampir mengisi bahan bakar di sebuah stasiun BBM di sekitar Tanjung Barat Jakarta Selatan. Seperti biasa saya menanyakan terlebih dahulu apakah bisa menggunakan kartu kredit karena saya lebih suka menggunakan uang plastik (cashless) daripada tunai. Apalagi siang itu uang tunai di dompet tidak cukup untuk mengisi BBM hingga tangki penuh.

“Kalau di sini hanya melayani tunai, Pak”, jawab petugas dengan ramah. “Tapi di sana ada ATM koq, Pak”, lanjutnya seraya tangannya menunjuk ke arah mesin ATM BRI yang lokasinya hanya beberapa langkah.

“Isi Rp500.000 ya Mas”, pinta saya sambil bergegas menuju mesin ATM. Kebetulan saya punya tabungan di BRI.

Beberapa kali saya mencoba melakukan transaksi tarik tunai, ternyata gagal. Pesan yang muncul meminta saya untuk mengganti pin dan sudah saya ikuti, tetapi tidak berhasil juga. Kejadian yang sama pernah saya alami di ATM BRI lain.

Karena hanya ada logo BRI di ATM ini saya menyimpulkan bahwa kartu ATM dari bank lain tidak bisa digunakan. Saya cek isi dompet ternyata ada uang hanya Rp200.000. Dengan buru-buru saya balik ke mobil dengan harapan pengisian belum penuh, sehingga mobil cukup diisi BBM senilai dua ratus rupiah.

“Maaf Mas, saya tidak bisa tarik tunai dan uang saya tidak cukup untuk bayar. Bagaimana caranya ya?” Saya mulai sedikit panik. Memang saya bawa beberapa kartu, tetapi hal itu tidak memberi solusi.

“Gampang saja Pak. Bapak ambil uang tunai ke ATM di Gedung Antam dekat sini, lalu Bapak kembali ke sini bayar”, jawabnya dengan enteng. Terasa aura positif memancar dari wajahnya yang teduh.

“Maaf ya, saya ke ATM dulu. Nanti saya pasti kembali untuk melunasinya. Terima kasih ya Mas”, jawab saya memberi keyakinan.

Saya menyalakan mesin mobil menuju gedung Antam. Dalam perjalanan muncul dalam benak saya beberapa pikiran.

“Sungguh baik hati orang tadi. Begitu mudahnya percaya sama orang”, muncul pikiran perdana.

“Kalau saya langsung jalan lurus tanpa belok kiri bisa saja ya”, muncul satu pikiran lagi.

“Tapi itu kan bukan kebiasaan saya”, sergah pikiran yang lain.

“Lagian itu akan menodai integritas saya”, sambungnya.

“Sudah-sudah. Sesuai dengan niat semula kita ambil uang lalu balik lagi ke pompa bensin itu untuk membayar lunas”, ajak pikiran yang lain.

Ada beberapa mesin ATM di pinggir pintu masuk parkir. Setelah memarkir mobil, saya menuju ATM Mandiri. Sengaja saya tidak ke ATM BRI karena saya ragu alias tidak yakin bisa tarik uang. Dan di ATM Mandiri saya dengan mudah mendapatkan uang cash.

Karena melalui jalan yang memutar, perjalanan kembali ke stasiun BBM kurang lebih 2 km. Saya dengan senang hati menyerahkan lima lembar uang kertas untuk melunasi utang dengan tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaannya yang begitu besar kepada saya. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab saya yang telah mendapatkan kepercayaan dari petugas SPBU tersebut.15592612634542073719592320465735

Memang, rasa saling percaya (trust) di negara kita sudah menjadi barang yang langka saat ini. Perasaan curiga, prasangka buruk, dan ketidakpercayaan dengan mudah muncul dalam benak dibandingkan dengan muncuknya trust. Bisa saja trust itu muncul dengan cepat, tetapi dengan cepat pula pikiran ragu atas trust itu juga muncul mengiringinya.

Betapa damainya Indonesia jika orang-orang seperti petugas SPBU tadi yang dengan mudahnya percaya kepada orang lain, bahkan yang belum kenal sekalipun, makin banyak bermunculan di bumi pertiwi ini.

Salam berkelimpahan bahagia

SHARE
Previous articlePIDATO YANG MENGINSPIRASI
Next articleBRAHMAN ATMAN AIKHYAM
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. Semoga Anda makin berkelimpahan rezeki hari demi hari... Salam berkelimpahan bahagia, I Nyoman Widia

LEAVE A REPLY